Aku Masih Beruntung_Karya Inas Nur Fajriyah_Cerpen
AKU MASIH BERUNTUNG
Mata kuliah terakhir di
hari Jumat selesai. Menandakan libur akhir pekan telah tiba. Sudah tiga minggu lebih
Mona tidak pulang ke rumah. Banyak sekali tugas dan kegiatan perkuliahan yang
membuatnya merasa kelelahan. Ia lebih memilih berdiam diri di kamar kos mungil
kesayangannya. Terlebih sejak keinginannya untuk membeli ponsel baru ditolak
mentah-mentah oleh ayahnya, Mona makin enggan untuk pulang. Rasa kesal dan kecewa
atas sikap ayahnya itu menjadi penyebab utama, padahal biasanya sesibuk-sibuknya
aktivitas perkuliahan, ia selalu menyempatkan waktu untuk pulang.
Suara telepon masuk
berdering di atas meja belajar. Merdunya dering telepon tersebut seolah menjadi
alarm yang membangunkan Mona dari tidur siangnya. Ia enggan untuk langsung beranjak.
Tubuhnya sangat menempel dengan kasur bak prangko. Mona tidak menghiraukan
panggilan masuk itu dan membiarkan ponselnya bernyanyi berulang kali. Khawatir
dengan keadaan Mona, sang ibu lalu mengirim pesan singkat untuk putri
kesayangannya.
“Na, gimana kabarmu?
Sudah makan belum? Boleh angkat teleponnya sebentar?” tanya ibu kepada Mona
lewat pesan singkat yang dikirimnya.
Lagi-lagi Mona tidak menghiraukannya.
Pesan singkat itu hanya dibaca tanpa dibalas. Kekesalan dalam dirinya memang
ditujukan untuk ayahnya, tetapi entah kenapa ia juga merasa kesal dan kecewa
kepada ibunya.
Hari berganti menjadi malam.
Ia naik ke balkon atas kosnya. Secangkir teh manis hangat dan dua buah bakpao
isi kacang hijau ikut menemani Mona menikmati indahnya malam. Hening malam ini
cukup menenangkan pikirannya dari hiruk pikuk siang yang telah dilewatinya. Matanya
tertuju pada megahnya cakrawala yang bertaburan bintang-bintang. Pikirannya
hampa dan tak berarah. Ia masih tak menyangka, ayahnya begitu menolak keras
permintaannya. Baru kali ini sang ayah tidak mengabulkan permintaannya. Padahal
kalau dipikir-pikir, ponsel milik Mona tidak begitu jadul, tetapi memang tidak
sesuai dengan tren mode sekarang.
“Mengapa ayah menolak permintaanku? Padahal
ponsel punyaku keluaran lama,” gumam Mona dalam hati.
Teh hangat yang
menemaninya dari tadi mulai dingin. Segera ia meneguk teh itu sampai tetesan
terakhir. Udara malam makin dingin. Buru-buru ia turun karena hari makin malam.
Pintu kamar dengan gantungan kupu-kupu telah menyambut Mona agar segera masuk.
Di dalam kamar, ia masih teringat akan keinginannya. Ponsel mode terbaru dengan
segala kecanggihannya memang sudah tidak diragukan lagi. Fitur kamera yang
memberikan efek cantik, aplikasi terkini yang memudahkan pekerjaan, dan semua
tentang ponsel baru masih bergelut di dalam pikirannya. Namun segera ia tepis
pikiran-pikiran itu, karena harapan untuk memiliki ponsel baru rasanya tidak
akan pernah terwujud.
“Ah, sudahlah!
Lama-lama pikiranku makin gak karuan,” seru Mona dilanjutkan dengan memejamkan
matanya untuk tidur.
***
Kring!!! Bunyi alarm
tua yang sudah menemani Mona selama bertahun-tahun ini selalu membersamainya
untuk menyambut pagi. Tak terasa, hari sudah kembali lagi ke Senin. Libur akhir
pekan seperti hanya terasa dua atau tiga jam saja.
“Huft, udah Senin aja!
Gara-gara libur kemarin dipakai ngerjain tugas jadi gak bisa istirahat total
deh,” keluh Mona dengan posisi masih berbaring di tempat tidur.
Seperti biasa Mona
segera bergegas menuju kamar mandi untuk lanjut siap-siap berangkat ke kampus.
Kebetulan hari ini ada kelas pagi, jadi Mona berangkat lebih awal dari
biasanya. Sesampainya di parkiran kampus, Mona tidak langsung turun dari sepeda
motornya. Ia memandang sepeda motor yang berada di sebelahnya.
“Andai saja aku punya
motor kayak gini, pasti kalau pulang ke rumah lebih cepat. Model motornya pun
keren banget. Hmmm kapan ya punya motor kayak gitu,” keluhnya sambil turun dari
motor.
Ruang kelas hari ini
berada di lantai dua. Satu per satu anak tangga dilaluinya. Setibanya di lantai
dua, ia melihat teman sekelasnya sedang sibuk dengan ponselnya.
“Kamu belum masuk kelas
Nay?” tanya Mona kepada Nayla.
“Belum nih, aku lagi
ngambil gambar pemandangan Gunung Slamet dari sini,” jawab Nayla atas
pertanyaan Mona.
“Oh, gitu ya. Ya udah
aku duluan ya,” kata Mona kepada Nayla.
“Oke...” jawab Nayla
sambil memberikan senyum manisnya.
Sepanjang perjalanan
menuju kelas, Mona terbayang ponsel yang digenggam Nayla. Ponsel milik Nayla
adalah ponsel impiannya. Mona kembali berandai-andai tentang ponsel itu.
Alangkah senangnya jika ia memiliki ponsel baru seperti milik Nayla. Pasti
semua momen akan diabadikannya.
Sesampainya di kelas,
kursi di bagian depan telah penuh. Mau tidak mau, Mona harus duduk di kursi
belakang. Ziva yang duduk di kursi bagian depan sedang asyik menceritakan
kejutan ulang tahun yang diberikan mama papanya. Teman-teman yang mengelilingi
Ziva pun tampak antusias mendengarkan ceritanya. Berbeda dengan teman-temannya,
Mona tidak begitu tertarik untuk bergabung. Ia lebih memilih membaca novel
favoritnya. Suara Ziva yang menggebu-gebu cukup menghilangkan konsentrasi Mona saat
membaca. Sambil terus berusaha untuk fokus membaca, secara tidak sengaja ia
sedikit menguping cerita Ziva dibalik novel yang dibacanya.
“Eh, tau gak kalian apa
yang bikin aku lebih senang?” tanya Ziva kepada teman-temannya.
“Apa tuh?” jawab teman-temannya
dengan rasa penasaran.
“Papaku ngasih hadiah
ponsel baru, katanya biar aku semangat kuliahnya. Aku terharu banget papa bisa
sebaik itu sama aku” jawab Ziva.
“Wah, papamu memang
idaman semua anak,” ucap salah seorang teman yang turut mendengarkan cerita
Ziva.
Terlihat raut wajah
Ziva yang begitu bangga akan papanya. Mona hanya menghela napas panjang. Berbeda
sekali dengan dirinya. Rasanya ia ingin tukar posisi dengan Ziva.
“Duh... kenapa si, dari
tadi ada aja hal yang bikin insecure,” gerutu Mona dalam hati.
Akhirnya Mona
memutuskan keluar kelas sebentar untuk menghirup udara segar agar
pikiran-pikiran yang membuatnya penat bisa hilang. Dipandangnya langit yang
begitu cerah pada pagi ini. Tenang dan damai yang ia rasakan. Seolah beban pikirannya
lepas semua. Akhirnya, hati dan pikirannya kembali seperti biasa. Mona kembali
masuk ke kelas untuk mengikuti perkuliahan hari ini.
***
Sore ini sangat
mendung. Sepertinya hujan akan segera tiba. Suasana hujan sangat disukai Mona.
Baginya saat hujan turun, suasana menjadi lebih segar sehingga ia lebih mudah
untuk berpikir. Pas sekali, tugas perkuliahan makin hari makin menumpuk. Maka
dari itu, saat ini adalah kesempatan yang bagus untuk mulai menyicil
tugas-tugas tersebut.
Siap untuk mengerjakan
tugas, kemudian ia menyalakan laptopnya. Terpampang jelas foto keluarganya pada
wallpaper desktop laptop miliknya. Dipandangnya dengan dalam foto
tersebut. Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Tebersit rasa rindu akan
keluarganya di rumah.
“Rindu sekali rasanya sama
mereka, rindu juga suasana rumah,” ungkap Mona dalam hati.
Lama memandang foto
tersebut dengan segala kerinduan, tiba-tiba laptop mati dengan sendirinya.
“Lho, kenapa laptopku
mati? Perasaan baterainya masih penuh deh,” ucap Mona kebingungan.
Lalu Mona menyalakan
kembali laptopnya. Ia merasa lega laptopnya bisa hidup kembali. Baru saja ia hendak
membuka file, laptopnya kembali mati.
“Ini laptop kenapa si?
Gak biasanya gini deh,” ucap Mona dengan cemas.
“Aku coba lagi deh,
semoga gak mati-mati lagi. Mungkin laptopnya juga lelah, makanya agak eror,”
ungkapnya penuh harap.
Ketiga kalinya ia
mencoba menyalakan laptopnya, ternyata hasilnya masih sama. Laptopnya mati
lagi. Bahkan dipercobaan yang keempat, di layarnya terdapat garis vertikal yang
berjajar.
“Duh, laptopku kenapa
ini? Gimana aku mau ngerjain tugas kalau laptopnya eror begini,” ungkap Mona
dengan perasaan sedih.
Setelah dicoba
dinyalakan beberapa kali, akhirnya laptop Mona mati total. Laptopnya tidak bisa
dihidupkan sama sekali. Ia sangat sedih, tetapi tetap berusaha tenang. Ia
kemudian berjalan mendekati jendela. Tampaknya hujan belum turun. Lalu ia
memasukkan laptopnya ke dalam tas untuk dibawa ke tukang servis.
Sesampainya di tempat
servis laptop, Mona menceritakan awal mula kerusakan laptopnya hingga akhirnya
mati total. Kemudian tukang servis mengecek laptop Mona.
“Maaf Dek, sepertinya
ini harus ada beberapa bagian yang diganti,” ucap tukang servis setelah
mengecek laptop Mona.
“Oh begitu ya pak.
Kira-kira berapa ya, biayanya?” tanya Mona pada tukang servis.
“Sekitar tiga ratus
ribu, Dek,” jawab tukang servis.
“Hah tiga ratus ribu?
Tidak bisa kurang ya pak?” tanya Mona sedikit menawar.
“Tidak bisa dek,
soalnya bagian yang harus diganti cukup mahal. Jadi kalau tidak diganti,
laptopnya tidak akan bisa nyala,” ucap tukang servis menjelaskan kepada Mona.
“Baiklah pak, kalau
begitu diganti saja, asal laptopnya bisa nyala lagi. Selesainya kapan ya pak?”
tanya Mona.
“Besok siang bisa diambil,
hari ini langsung saya perbaiki,” jawab tukang servis.
“Oke pak, besok siang
saya ke sini lagi buat ambil laptopnya,” ucap Mona.
“Siap, Dek,” jawab
tukang servis dengan ramah.
Keluar dari tempat
servis, berbarengan dengan turunnya hujan. Sore ini hujan yang turun cukup
deras. Mona lupa membawa jas hujan. Kemudian ia memutuskan untuk duduk di kursi
depan toko. Lalu ia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Tinggal tersisa
empat ratus ribu rupiah di dalamnya.
“Hmmm, uangku tersisa
empat ratus ribu lagi, apa cukup ya buat seminggu ke depan?” gumam Mona dalam
hati.
Kerusakan laptopnya
memang di luar dugaan. Andai saja laptopnya gak rusak, kemungkinan uang
jajannya masih utuh. Mona malas untuk minta ke orang tuanya. Ia tidak mau kena
omel lagi seperti kemarin-kemarin. Sebisa mungkin ia harus hemat untuk satu
minggu ke depan. Minggu depan juga sudah awal bulan, orang tuanya pasti akan
mengirimkan jatah bulanan untuknya. Kembali ia memandang jalanan sambil
menunggu hujan reda dengan pikiran yang sedikit tenang.
***
Perkuliahan hari ini
selesai. Siang ini, ia berencana untuk pergi ke tempat servis laptop kemarin
untuk mengambil laptopnya. Setibanya di tempat servis, ia kemudian menghampiri
tukang servis untuk mengambil laptopnya. Sesuai dengan janji tukang servis
kemarin, laptop milik Mona hari ini telah selesai diperbaiki. Sebelum pulang, Mona
mengecek laptopnya dengan mencoba menyalakannya. Akhirnya laptop Mona bisa
nyala kembali. Kemudian ia membayar jasa perbaikan laptop tersebut sesuai
dengan harga yang kemarin.
Hari ini cukup
melelahkan, bahkan tadi pagi Mona belum sempat sarapan karena bangun kesiangan.
Hanya sebungkus roti dan segelas susu yang ia santap tadi pagi. Sebelum pulang menuju
kos, Mona mampir dulu ke warung makan. Ia memesan ayam geprek dan jus alpukat
kesukaannya sekaligus membayarnya. Tak lama kemudian, pesanan Mona pun
diantarkan oleh pelayan menuju meja yang ditempatinya. Segera Mona berdoa dan
kemudian menyantap hidangan siang ini.
“Emang gak ada
tandingnya deh ayam geprek yang satu ini. Pas banget apalagi lagi lapar-lapar
gini,” gumam Mona dalam hati.
Menu kali ini habis dan
tak tersisa sedikitpun. Ditutup dengan jus alpukat yang manis dan dingin,
menjadikan makan siangnya kali ini sempurna. Saat beranjak dari tempat duduk
sambil mengambil kunci motor yang ditaruh di meja, ponsel Mona yang berada di
samping kunci motor tersebut secara tidak sengaja terpaut gantungan kunci motor
dan akhirnya jatuh.
Prakkk....!!! Ponsel
Mona jatuh. Gantungan kunci motornya yang cukup panjang memaut ponselnya dengan
tak sengaja. Wajah Mona memerah. Tangannya gemetar mengambil ponsel yang jatuh.
Layar ponselnya retak cukup parah.
Sepanjang jalan menuju
kos, ia menangis. Sudah dua hari ini ada saja kejadian yang membuatnya sedih.
Mulai dari kemarin laptopnya yang rusak dan sekarang ponselnya rusak. Musibah
yang dialaminya ibarat pepatah habis jatuh tertimpa tangga pula.
Malam ini ia meratapi
dirinya yang malang. Tak kuasa menahan tangisnya, Mona kemudian menelepon
ibunya. Ia berharap dirinya bisa tenang. Dicari kontak ibunya dengan menyentuh
layar ponselnya pelan-pelan. Walau layarnya retak cukup parah tetapi masih bisa
berfungsi asal disentuhnya pelan-pelan.
“Halo, Assalamualaikum,
Bu,” sapa Mona dengan disertai isak tangis.
“Waalaikumussalam,
Na. Kamu kenapa? Kok nangis?” jawab ibunya dengan cemas.
“Ponsel Mona, Bu,” ucap
Mona dengan tangis yang mulai pecah.
“Tenang dulu, Na.
Jangan nangis, coba ceritakan pelan-pelan. Ponsel kamu kenapa?” jawab ibunya
mencoba menenangkan.
“Pon...pon...sel aku
rusak Bu. Tadi pas Mona selesai makan siang, ponsel Mona jatuh terpaut
gantungan kunci motor. Layarnya re...re...tak dan beberapa fitunya udah gak
bisa dipakai lagi,” ucap Mona menjelaskan kepada ibunya sambil nangis
tersedu-sedu.
“Sabar ya, Na. Sekarang
kamu tenangin dulu pikiranmu. Makan dan istirahat yang cukup. Nanti ibu coba
bicarakan sama ayah masalah ini. Semangat ya kuliahnya,” jawab ibu kembali
menenangkan sambil menyemangati Mona.
“Iya, Bu, makasih ya,”
ucap Mona dengan suara yang mulai agak tenang.
“Ya sudah, sekarang
kamu istirahat dulu ya. Jangan lupa salat isya!” ucap ibu mengingatkan Mona.
“Baik, Bu,” jawab Mona.
Percakapan malam ini berakhir.
Mona bergegas mengambil air wudu untuk menunaikan salat isya. Setelah salat,
Mona langsung tidur, karena kepalanya agak sakit akibat menangis seharian ini.
***
Awal bulan telah tiba.
Sudah hampir seminggu, Mona bertahan dengan keadaan ponselnya yang rusak. Ia
cukup kesulitan akibat kerusakan ponselnya. Tugas dan akses komunikasi serta
informasinya sedikit terhambat. Tetapi dengan adanya musibah ini membuat Mona
belajar lebih sabar lagi dalam menjalani hari-harinya.
Hari ini hanya ada satu
mata kuliah, jadi Mona pulang lebih awal. Sesampainya di parkiran, ia mengecek
ponselnya karena sepanjang perkuliahan tadi, ponselnya dimatikan. Mona kaget
ternyata ada tujuh panggilan tak terjawab dari ayahnya.
“Tumben banget ayah
menelepon berkali-kali. Ada apa ya? Apa ayah udah tau dan marah gara-gara
ponselku rusak?” gumam Mona dalam hati dengan sedikit cemas.
Tiba-tiba ponselnya kembali
berdering. Ayahnya kembali menghubungi Mona. Sebenarnya ia masih kesal pada
ayahnya, tetapi ia takut ayahnya akan mengomelinya lagi. Akhirnya diangkatlah
telepon dari ayahnya.
“Halo, assalamualaikum,
Na,” sapa ayah kepada Mona.
“Waalaikumussalam,
Yah,” jawab Mona agak sedikit cuek.
“Gimana kabarmu,
sehat?” tanya ayah.
“Sehat, Yah,” jawab
Mona masih dengan nada cuek.
“Alhamdulillah,
syukurlah kalau kamu sehat. Oh iya, tadi ayah sudah kirim uang untuk keperluan kamu.
Kemarin ibu bilang ponselmu rusak, jadi itu ada tambahan buat benerin ponselmu
ya. Maaf, ayah kemarin-kemarin sempat ngomelin kamu, kebetulan pas itu ayah
lagi cape banget dan banyak pikiran, jadinya terbawa suasana. Nanti kalau ada rezeki
lebih, ayah belikan ponsel yang baru. Tidak apa-apa kan?” ucap ayah kepada
Mona.
“Iya gapapa, makasih,
Yah,” jawab Mona dengan sikap biasa saja.
“Mona, besok kamu
pulang tidak? Kalau tidak ada tugas atau kegiatan pulang ya, ayah sama ibu
kangen banget sama kamu. Nanti ibu masakin ikan bakar kesukaanmu deh,” bujuk
ayah kepada Mona.
“Iya, gimana nanti aja
ya, Yah,” jawab Mona.
Entah kenapa rasa kesal
itu masih menggeluti hati Mona. Padahal ayahnya sudah meminta maaf dan berusaha
begitu baik padanya. Tetapi tetap saja, penolakan atas pemintaannya untuk
memiliki ponsel baru masih teringat terus.
***
Minggu ini tugas-tugas
Mona sudah selesai. Ponselnya yang rusak pun sudah diperbaiki. Merdeka sekali
rasanya, besok ia bisa bebas berleha-leha di hari liburnya.
Libur telah tiba,
akhirnya Mona dapat menikmati liburnya dengan tenang tanpa dilibatkan dengan
tugas-tugas kuliahnya. Setelah membereskan kamar dan mencuci pakaian, ia
berencana untuk menonton film favoritnya yang sudah diunduhnya kemarin. Baru saja
sepuluh menit filmnya diputar, muncul notifikasi di layar ponselnya. Ibunya
mengirim sebuah pesan singkat.
“Na, hari ini bisa
pulang tidak? Ayah demam tinggi,” tulis ibu pada pesan singkatnya.
Mona begitu terkejut.
Baru saja kemarin ia ditelepon ayahnya, sekarang ia menerima kabar bahwa
ayahnya sakit. Mona pun segera membalas pesan ibunya. Ia sangat khawatir akan
keadaan ayahnya. Rasa kecewanya perlahan tidak dihiraukannya lagi.
“Mona pulang sekarang,
Bu,” balas Mona kepada ibunya dengan perasaan khawatir.
“Hati-hati di jalan,
Na,” balas ibu mengingatakan.
“Siap, Bu,” kata Mona.
Setelah itu, ia
bergegas mengemas barang-barang yang akan dibawa pulang. Tak lupa ia membawa
jas hujan karena menjelang sore biasanya turun hujan.
***
Selesai salat zuhur, ia
langsung pulang menuju rumahnya. Mona akan menempuh perjalanan selama kurang
lebih tiga jam untuk sampai ke rumah. Di perjalanan, Mona merasa tidak tenang.
Ia sangat khawatir dengan keadaan sang ayah.
Awan mulai menghitam.
Rintik hujan perlahan turun dan makin kerap. Mona berhenti di pinggir jalan. Ia
segera memakai jas hujan untuk melindungi tubuh dan barang-barangnya. Benar
saja, tak lama kemudia hujannya makin deras. Untungnya ia tadi langsung
memakainya. Jika tidak, ia pasti sudah basah kuyup.
Jalur yang diambil Mona
untuk pulang merupakan jalur alternatif dengan melewati hutan pinus. Alasan Mona
memilih jalur ini adalah agar lebih cepat sampai. Derasnya hujan yang turun dan
disertai kabut putih tebal, menyebabkan penglihatan Mona menjadi sedikit kabur.
Ia benar-benar harus konsentrasi dalam menyetir. Hujan deras dan tebalnya
kabut, lama-lama membuat perjalanan Mona menjadi agak terhambat. Saat melewati
hutan pinus yang jalannya tidak begitu lebar, ia hampir tidak melihat jalan
karena tertutup kabut. Ia mencoba menyetir dengan pelan dan hati-hati.
Dug!!! Mona berhenti.
Ia merasa motornya menabrak sesuatu. Ditengoknya ke belakang, ternyata ada
seorang anak kecil yang terjatuh. Kemudian Mona menghampiri anak tersebut. Tanpa
berpikir panjang, Mona membawa anak tersebut menuju warung kecil yang berada di
seberang jalan untuk berteduh.
Lutut kirinya berdarah.
Lengan bagian kirinya sedikit lecet. Makanan yang ada di kantong plastik
miliknya hancur semua. Mona sangat merasa bersalah pada anak tersebut. Tetapi
ia benar-benar tidak sengaja, karena penglihatnya kurang jelas akibat derasnya
hujan dan tebalnya kabut. Anak laki-laki itu sedikit merintih kesakitan karena
lukanya. Segera Mona membeli obat merah di warung tersebut, lalu mengobati luka
anak itu.
“Aw...,” suara merintih
anak itu saat Mona memberi obat merah pada bagian lukanya.
“Sakit banget ya, Dek?
Maaf ya, aku gak sengaja tadi. Soalnya jalan terhalang kabut, jadi
penglihatanku agak sedikit kabur,” ucap Mona kepada anak tersebut.
“Tidak apa-apa kak, kakakkan
juga tidak sengaja. Hanya sedikit perih saja, bentar lagi juga sembuh,” jawab
anak itu dengan senyum tulus.
Hati Mona begitu
terenyuh saat mendengar jawaban anak tersebut. Tampak dalam diri anak itu
sebuah ketulusan yang luar biasa. Jiwa pemaaf dan penyabar terpancar jelas
dalam dirinya.
“Oh iya, Dek. Kenalkan
namaku Mona. Kalau boleh tau, namamu siapa?” tanya Mona.
“Namaku Hanan, Kak,”
jawab anak itu.
“Oh, Hanan. Kamu habis
dari mana atau mau ke mana?” tanya Mona lagi.
“Aku habis jualan kue
kak dari desa seberang sana,” jawab Hanan.
“Oh, jadi kue-kue ini
daganganmu ya. Duh, aku minta maaf banget ya, nanti kue-kue ini aku beli semua
ya,” ucap Mona dengan perasaan bersalah.
“Tidak usah, Kak. Tidak
apa-apa, namanya juga gak sengaja. Jadi Kak Mona tidak perlu ganti ini semua,”
ucap Hanan.
“Gapapa, Dek. Ini sudah
jadi tanggung jawabku. Pokoknya kue-kue ini aku beli semua,” ucap Mona sambil
tersenyum kepada Hanan.
“Terima kasih banyak
ya, Kak. Semoga Kak Mona selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam setiap
urusan kakak,” ucap Hanan.
“Aamiin, semoga doa
baiknya berbalik ke kamu juga ya,” ucap Mona.
Lagi-lagi hati Mona
terenyuh akan ketulusan dalam diri Hanan. Ia dibuat kagum olehnya. Rasa
penasaran Mona mulai muncul untuk mengetahui lebih jauh tentang Hanan.
“Sejak kapan kamu
jualan seperti ini?” tanya Mona.
“Aku jualan gini sejak
ayahku meninggal dua tahun yang lalu, Kak. Sejak saat itu, aku membantu ibu mencari
uang untuk biaya makan sehari-hari dan juga memenuhi kebutuhan adikku yang
masih kecil,” kata Hanan kepada Mona.
“Memangnya kamu tidak
sekolah?” tanya Mona lagi.
“Aku berhenti sekolah
saat kelas tiga SD, Kak. Ibu tidak sanggup membiayai uang sekolahku tanpa
bantuan ayah, karena ibu tidak punya pekerjaan tetap,” jawab Hanan.
Percakapan sederhana
antara Mona dan Hanan begitu dalam. Mona sampai dibuat takjub oleh Hanan yang
selalu bersyukur akan takdir yang terjadi dalam hidupnya. Hanan juga rela
mengorbankan masa kecilnya demi membantu ibu dan kedua adiknya. Pemikirannya
pun sudah mulai dewasa. Ia tidak pernah mementingkan egonya sendiri dalam hal
apapun. Semua ia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan ibu dan adiknya.
Hanan tidak pernah
menyesali setiap nasib yang menimpa dirinya apalagi membanding-bandingkannya dengan
nasib orang lain. Dagangannya tidak laku pun ia tetap bersyukur. Bahkan saat
dagangannya masih tersisa banyak, ia bagikan pada orang-orang di sekitarnya
secara gratis. Baginya hal itu sudah lebih dari cukup membuatnya bahagia.
Walaupun ia kekurangan materi tetapi tak membuatnya mengeluh apalagi patah
semangat.
Sungguh, apa yang diucapkan
oleh Hanan sangat menyentuh hati Mona. Ia tidak menyangka, anak kecil ini bisa
memiliki pemikiran sedewasa itu. Cara Hanan memaknai kehidupan sangat luar
biasa. Bahkan Mona sendiri yang berstatus sebagai mahasiswa belum tentu dapat
berpikir sebegitu jauhnya. Ia selalu memikirkan egonya sendiri dan
membandingkan nasibnya dengan orang lain.
Air mata Mona tiba-tiba
jatuh tanpa aba-aba. Ia terharu akan perjuangan Hanan yang luar biasa. Hari
ini, ia begitu mendapatkan banyak pelajaran hidup dari cerita kehidupan Hanan.
Sekarang Mona sadar, ia harus lebih banyak bersyukur dengan apa yang ia punya saat
ini. Keluarga yang utuh adalah sesuatu berharga yang patut disyukuri. Mona
tersadar, dirinya masih beruntung memiliki keluarga yang lengkap, materi yang
cukup, serta kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Sementara masih
banyak orang di luar sana yang masih kekurangan dan tidak merasakan hangatnya
kasih sayang keluarga seperti yang Mona rasakan.
Hanan bingung melihat
Mona yang tiba-tiba menangis. Ia secara tidak sengaja mengejutkan Mona dari
lamunannya.
“Kak, kak, Kak Mona
kenapa nangis?” ucap Hanan.
“Kak Monaaaa....,” ucap
Hanan sedikit lebih keras.
“Eh, tidak apa-apa kok.
Kak Mona lagi kangen aja sama keluarga di rumah, hehehe,” jawab Mona sedikit
tersentak.
“Hujannya udah agak
reda nih, Kak Mona anterin kamu pulang ya. Nanti kamu pake jas hujan punya
kakak. Kebetulan Kak Mona punya dua,” ucap Mona sambil mengalihkan perhatian.
“Tidak usah kak, tidak
apa-apa nanti aku pulang sendiri saja. Aku gak mau ngerepotin kakak,” jawab
Hanan merasa tidak enak.
“Gapapa kok, sama
sekali gak merepotkan. Ini sudah menjadi tanggung jawab kakak. Oh iya, ini uang
buat gantiin daganganmu yang tadi rusak ya, sama ini ada sedikit tambahan buat
beli susu adikmu. Jangan ditolak pokoknya!” ucap Mona sambil memberikan uang dengan
disertai senyum manisnya.
Mata Hanan
berkaca-kaca. Ia sangat terenyuh akan kebaikan Mona. Ucapan terima kasih
diucapkan berkali-kali oleh Hanan kepada Mona.
Sesuai janjinya, Mona
mengantarkan Hanan ke rumahnya. Sesampainya di rumah Hanan, Mona bertemu dengan
ibunya Hanan. Ia menceritakan kejadian tadi dan meminta maaf atas
kecerobohannya. Sikap sang ibu di luar dugaannya. Ibunya sama sekali tidak
marah dan malah mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan anaknya
pulang.
“Memang ya, buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya,” gumam Mona dalam hati.
Mona pun berpamitan
kepada Hanan dan ibunya. Ia kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke
rumah. Sepanjang perjalanan, ia masih terbayang akan pertemuannya dengan Hanan.
Anak kecil itu memberinya pelajaran hidup yang sangat berharga.
Sesampainya di rumah,
terlihat ayah dan ibunya sedang duduk di kursi ruang makan. Di sana sudah
tersaji ikan bakar kesukaan Mona. Air matanya kembali jatuh tak tertahankan.
Tanpa pikir panjang ia langsung memeluk ayah dan ibunya secara bergantian. Rasa
syukur yang tak terhingga ia ucapkan dalam hati. Betapa beruntungnya Mona
mendapatkan kasih sayang yang utuh bahkan sempurna dari keduanya tanpa
terkecuali. Ia berjanji akan selalu menjaga dan mensyukuri anugerah berharga
ini.
Komentar
Posting Komentar